May 18, 2006

Graffiti Sebagai Karya Seni?

Filed under: Graffity
Graffiti Sebagai Karya Seni? Graffiti Sebagai Karya Seni? Dinding-dinding di sepanjang Jalan Tamblong yang semula putih bersih, kini sedikit berwarna. Kini, selain dipenuhi oleh "flyers" dan poster yang ditempel sembarangan, coretan-coretan jahil yang dibuat dengan cat semprot, juga mulai memenuhi dinding-dinding tersebut. Bikin mata orang-orang yang lalu lalang, mau nggak mau seperti tersihir untuk melihat atau sekadar melirik.
 
Katanya sih, itu adalah graffiti, coretan yang dibuat untuk mengekspresikan kebebasan. Graffiti yang berasal dari bahasa Yunani "graphein" (menuliskan), diartikan oleh wikipedia.org sebagai coretan pada dinding atau permukaan di tempat-tempat umum, atau tempat pribadi. Coretan tersebut, bentuknya bisa berupa seni, gambar, atau hanya berupa kata-kata. Graffiti yang banyak bertebaran di jalanan kota Bandung, masih sebatas coretan kata-kata yang merupakan identitas geng atau malah hanya berupa nama. "Itu masih bisa dikategorikan sebagai seni, walau mungkin pada levelnya berbeda, ya," ungkap Roy, seorang pelaku graffiti yang sempat belia temui ketika membuat satu graffiti di sebuah distro di bilangan Jalan Burangrang, Jumat (9/12). Penggunaan cat semprot untuk bikin sebuah graffiti, sudah mulai dikenal di New York, akhir tahun 60-an.
 
Coretan pertama dengan cat semprot, dilakukan pada sebuah kereta subway. Seorang bernama Taki yang tinggal di 183rd Street Washington Heights, selalu menuliskan namanya, entah itu di dalam kereta subway, atau di bagian luar dan dalam bis. Taki183, gitu bunyi tulisan yang ia buat menggunakan spidol. Taki ini seperti ingin nunjukkin identitas dirinya. 183 yang ia tulis setelah namanya, nunjukkin tempat tinggalnya. Gara-gara coretannya tersebut, orang-orang di seluruh kota jadi kenal dengan Taki, lewat coretan-coretan misteriusnya. Di tahun 1971, mister Taki ini diinterview oleh sebuah majalah terbitan New York.
 
Dari situlah, kepopuleran Taki diikuti oleh anak-anak seluruh New York. Anak-anak ini tertarik karena kepopuleran bisa diperoleh dengan hanya menuliskan identitas mereka –disebut juga tagging– pada bus atau kereta yang melewati seluruh kota. Semakin banyak nama atau identitas seorang anak, sudah pasti ia akan semakin populer. Setelah spidol, media yang kemudian biasa digunakan adalah cat semprot, yang dipakai untuk nge-bomb (istilah untuk menyemprot) bagian luar kereta. Karena semakin banyaknya orang-orang yang bikin tagging, nggak heran kalau setiap writers, pengen punya style sendiri. Dari situ, mereka nambahin warna-warna yang eyecatching, efek-efek khusus, bahkan mereka mencoba untuk menuliskan namanya lebih besar. Dengan bantuan cat semprot, pengerjaan graffiti ini lebih cepet beres. Makanya, untuk mengantisipasi tagging yang mulai mewabah, pihak kepolisian setempat sampai melarang penjualan cat semprot pada anak-anak di bawah umur. Saking banyaknya pelaku graffiti, di Meksiko pun diberlakukan aturan serupa. Bahkan, setiap pembeli cat semprot harus menunjukkan identitas yang jelas dan menyertakan alasan untuk apa cat semprot itu digunakan. "Bikin graffiti di public space itu seperti punya gengsi sendiri. Selain itu adrenalin bakal terpacu, karena takut dikejar polisi atau gangster," kenang Roy, yang pernah ke-gap sama gangster pas bikin graffiti di public space. Yup. Selalu public space yang menjadi sasaran para seniman jalanan ini untuk berkreasi.
 
"Sebagian orang ada yang nganggep graffiti sebagai karya seni, tapi nggak sedikit juga yang bilang kalau coretan-coretan itu malah ngerusak," kata Radi, seorang mahasiswa seni lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Jika graffiti ini dilakukan tanpa seizin pemilik tempat, perbuatan ini dapat dikategorikan sebagai tindakan vandal. Mungkin banyak di antara Belia yang belum tau apa itu arti vandalisme. Vandalisme bisa diartikan sebagai tindakan yang merusak properti orang lain. It means, graffiti atau mural yang dilakukan tanpa izin di tempat-tempat umum, bisa dikategorikan sebagai vandalisme. Sementara, banyak orang yang berpendapat, kalau graffiti di dinding-dinding jalan, masih lebih baik daripada dinding-dinding tersebut kotor, tidak terawat, dan penuh dengan tempelan flyers atau brosur-brosur yang nggak penting.

AA BOXER

Filed under: Bela Diri

Achmad Dradjat atau Aa Dradjat, pimpinan perkumpulan bela diri Tarung Drajat terang-terangan menyatakan tidak setuju adanya pertarungan lintas bela diri. Baginya, seharusnya setiap aliran bela diri memiliki pride terhadap beladiri mereka dan tak terjebak dengan kepentingan sesaat atau bisnis semata.

Bagi Aa diadakannya pertyarungan bebas yang meniru Ultimate Fighting Championships di Amerika Serikat, Vale Tudo di Brasil, Pride Fighting Championship di Jepang dan arena lainnya tidak memberikan kontribuasi apa pun pada perkembangan bela diri di Indonesia, selain kepentingan bisnis tontonan. Berikut keberatan Aa Dradjat.

Mengapa Anda tidak setuju arena semacam ini?
Saya pernah diminta menjadi komentator tarung bebas yang diadakan TPI ini. Saya tidak mau. Saya juga melarang murid saya ikut arena tarung itu. Bagi kami, silakan saja tarung bebas, tapi harus tetap ada aturannya. Dengan demikian setiap pendekar atau orang yang menguasai bela diri tetap menempatkan pertarungan tersebut sebagai suatu seni bertarung dan tidak asal mau menang saja.

Maksudnya?
Misalnya dipertemukan pendekar silat dengan pendekar gulat atau judo. Ya dilakukan saja pertarungan dua tahap. Pertama dengan aturan silat, kedua dengan peraturan judo atau gulat. Baru bisa terlihat kan. Kalau mau jujur Tarung Drajat diadakan sejak 1988, UFC mungkin sebelum itu. Tapi buat saya apa seninya bertarung semacam itu? Jadi saya tetap menekankan belajar bela diri itu jangan tergiur kepentingan sesaat.

Bagaimana kalau ada yang menantang Tarung Dradjat?
Silakan saja datang ke tempat kami. Di tempat kami ada mantan petarung Ultimate Fighting Championship, negro asal Belanda. Sebelumnya ia menguasai karate dan grappling. Setelah berlatih di tempat kami ia tidak mau ikut dalam kontes semacam itu lagi.

Idealnya bagaimana?
Seperti tadi. Seharusnya pertarungan diadakan sesuai peraturan. Bila petinju bertemu pegulat, diadakanlah dua kali menurut disiplin ilmu masing-masing. Bagi saya, beladiri itu harus hidup sesuai hakiki dan rasional. Bila dicampuri politik atau bisnis, maka ia akan kehilangan jiwa ksatria.

Ok-lah. Tapi secara teoretis, bagaimana sih menghadapi beladiri yang main bawah?
Ya jangan mau dipaksa main bawah. Sedapat mungkin jatuhkan lawan saat masih di atas.

BOX!!